Tuesday, August 31, 2010

Nasihat Berharga Buatmu– “Wahai Puteriku”


Dewasa ini terlalu banyak kemaksiatan dan kemungkaran yang berlaku di kalangan umat. Di samping jenayah besar sehingga jenayah kecil yang kadangkala merisaukan banyak pihak walaupun pada ketika ini usaha yang dilakukan oleh pihak kerajaan mengerahkan tenaga kerja polis agar lebih berada di luar terutama di kawasan-kawasan yang panas yang boleh mendatangkan risiko besar dalam penghasilkan jenayah berlaku. Hasilnya apa yang masih dinantikan adalah kadar jenayah sepatutnya semakin menurun dari semasa ke semasa kerana setiap penduduk Malaysia menginginkan kesejahteraan dan keharmonian hidup tidak kira bagi siapa sahaja status diri, agama dan bangsa.

Untuk entri artikel kali ini penulis lebih ingin menyentuh isu yang berkait dengan kemungkaran dan kemaksiatan yang berlaku membabitkan pasangan muda mudi harapan agama, bangsa dan negara. Dengan isu pembuangan bayi (seperti kita telah kembali ke zaman jahiliyah lampau), pemerdagangan manusia, zina, khalwat, sumbang mahram dan seribu satu kes yang tidak lepas daripada membabitkan insan yang bergelar muslimah, akhwat, wanita, perempuan mahupun gadis atau puteri dalam kiasan lembutnya. Inilah nasihat buat kalian yang wajar kalian dengar luahan isi hati seorang yang bergelar ayah terhadap anak-anak gadis dan puteri buah hatinya.



Puteriku tercinta! Aku seorang yang telah berusia hampir lima puluh tahun. Hilang sudah masa remaja, impian dan khayalan. Aku telah mengunjungi banyak negeri, dan berjumpa dengan banyak orang. Aku juga telah merasakan pahit getirnya dunia. Oleh kerana itu dengarkanlah nasihat-nasihatku yang benar lagi jelas, berdasarkan pengalaman-pengalamanku, yang belum pernah engkau dengar dari orang lain sebelumnya.


Kami telah menulis dan mengajak kepada perbaikan moral, menghapus kejahatan dan mengekang hawa nafsu, sampai pena tumpul, dan mulut letih, tetapi kami tidak menghasilkan apa-apa. Kemungkaran tidak dapat kami banteras, bahkan semakin bertambah, kerosakan telah berleluasa, para wanita keluar dengan pakaian merangsang, terbuka bahagian lengan, betis dan lehernya. Kami belum menemukan cara untuk memperbaiki, kami belum tahu jalannya. Sesungguhnya jalan kebaikan itu ada di depanmu, puteriku! Kuncinya berada di tanganmu.


Benar bahwa lelakilah yang memulai langkah pertama dalam lorong dosa, tetapi bila engkau tidak setuju, laki-laki itu tidak akan berani, dan andaikata bukan lantaran lemah gemalaimu, laki-laki tidak akan bertambah parah. Engkaulah yang membuka pintu, kau katakan kepada si pencuri itu : silakan masuk … ketika ia telah mencuri, engkau berteriak : Pencuri …! Tolong … tolong… saya kecurian.


Demi Allah … dalam khayalan seorang pemuda tak melihat gadis kecuali gadis itu telah ia telanjangi pakaiannya.

Demi Allah … begitulah, jangan engkau percaya apa yang dikatakan laki-laki, bahwa ia tidak akan melihat gadis kecuali akhlak dan budi bahasanya. Ia akan berbicara kepadamu sebagai seorang sahabat.

Demi Allah … ia telah bohong! Senyuman yang diberikan pemuda kepadamu, kehalusan budi bahasa dan perhatian, semua itu tidak lain hanyalah merupakan perangkap rayuan ! setelah itu apa yang terjadi? Apa, wahai puteriku? cuba kau pikirkan!


Kalian berdua sesaat berada dalam kenikmatan, kemudian engkau ditinggalkan, dan engkau selamanya tetap akan merasakan penderitaan akibat kenikmatan itu. Pemuda tersebut akan mencari mangsa lain untuk diterkam kehormatannya, dan engakulah yang menanggung beban kehamilan dalam perutmu. Jiwamu menangis, keningmu tercoreng, selama hidupmu engkau akan tetap berkubang dalam kehinaan dan keaiban, masyarakat tidak akan mengampunimu selamanya.


Bila engkau bertemu dengan pemuda, kau palingkan muka, dan menghindarinya. Apabila ada lelaki pengganggumu melalui perkataan atau tangan yang menggatal, kau lepaskan sepatu dari kakimu lalu kau lemparkan ke kepalanya, bila semua ini engkau lakukan, maka semua orang di jalan akan membelamu. Setelah itu anak-anak nakal itu takkan mengganggu gadis-gadis lagi. Apabila anak laki-laki itu menginginkan kebaikan maka ia akan mendatangi orang tuamu untuk melamar.



Cita-cita wanita tertinggi adalah perkawinan. Wanita, bagaimanapun juga status sosial, kekayaan, populariti, dan prestasinya, sesuatu yang sangat didamba-dambakannya adalah menjadi isteri yang baik serta ibu rumah tangga yang terhormat. Tak ada seorangpun yang mau menikahi pelacur, sekalipun ia lelaki hidung belang, apabila ia akan menikah tidak akan memilih wanita jalang (jahat). Akan tetapi ia akan memilih wanita yang baik karena ia tidak rela bila ibu rumah tangga dan ibu putera-puterinya adalah seorang wanita yang bermoral dan berakhlak.


Sesungguhnya krisis perkawinan terjadi disebabkan kalian kaum wanita! Krisis perkawinan terjadi disebabkan perbuatan wanita-wanita sia-sia, sehingga para pemuda tidak memerlukan isteri, akibatnya banyak para gadis berusia cukup untuk nikah tidak mendapatkan suami.


Mengapa wanita-wanita yang baik belum juga sedar? Mengapa kalian tidak berusaha memberantas malapetaka ini? Kalianlah yang lebih patut dan lebih mampu daripada kaum laki-laki untuk melakukan usaha itu karena kalian telah mengerti bahasa wanita dan cara menyedarkan mereka, dan oleh karena yang menjadi korban kerosakan ini adalah kalian, para wanita mulia dan beragama.


Maka hendaklah kalian mengajak mereka agar bertakwa kepada Allah, bila mereka tidak mau bertakwa, peringatkanlah mereka akan akibat yang buruk dari perzinaan seperti terjangkitnya suatu penyakit. Bila mereka masih membangkang maka beritahukan akan kenyataan yang ada, katakan kepada mereka : kalian adalah gadis-gadis remaja putri yang cantik, oleh karena itu banyak pemuda mendatangi kalian dan berebut di sekitar kalian, akan tetapi apakah keremajaan dan kecantikan itu akan kekal? Semua makhluk di dunia ini tidak ada yang kekal. Bagaimana kelanjutannya, bila kalian sudah menjadi nenek dengan punggung bongkok dan wajah kerepot? Saat itu, siapakah yang akan memperhatikan? Siapa yang akan menaruh simpati?


Tahukah kalian, siapakah yang memperhatikan, menghormati dan mencintai seorang nenek? Mereka adalah anak dan para cucunya, saat itulah nenek tersebut menjadi seorang ratu ditengah rakyatnya. Duduk di atas singgahsana dengan memakai mahkota, tetapi bagaimana dengan nenek yang lain, yang masih belum bersuami itu? Apakah kelezatan itu sebanding dengan penderitaan di atas? Apakah akibat itu akan kita tukar dengan kelazatan sementara?


Dan berilah nasehat-nasehat yang serupa, saya yakin kalian tidak perlu petunjuk orang lain serta tidak kehabisan cara untuk menasihati saudari-saudari yang tersesat dan patut dikasihani. Bila kalian tidak dapat mengatasi mereka, berusahalah untuk menjaga wanita-wanita baik, gadis-gadis yang sedang tumbuh, agar mereka tidak menempuh jalan yang salah.




Saya tidak minta kalian untuk mengubah secara drastik mengembalikan wanita kini menjadi wanita berkepribadian muslimah yang benar, akan tetapi kembalilah ke jalan yang benar setapak demi setapak sebagaimana kalian menerima kerosakan sedikit demi sedikit. Perbaikan tersebut tidak dapat diatasi hanya dalam waktu sehari atau dalam waktu singkat, melainkan dengan kembali ke jalan yang benar dari jalan yang semula kita lewati menuju keburukan walaupun jalan itu sekarang telah jauh, tidak menjadi soal, orang yang tidak mahu menempuh jalan yang jauh yang hanya satu-satunya ini, tidak akan pernah sampai.


Kita mulai dengan membanteras pergaulan bebas, (kalaupun) seorang wanita membuka wajahnya tidak bererti ia boleh bergaul dengan laki-laki yang bukan mahramnya. Istri tanpa tutup wajah bukan bererti ia boleh menyambut kawan suami di rumahnya, atau menyalaminya bila bertemu di kereta, bertemu di jalan, atau seorang gadis berjabat tangan kawan lelaki di sekolah, berbincang-bincang, berjalan seiring, belajar bersama untuk ujian, dia lupa bahwa Allah menjadikannya sebagai wanita dan kawannya sebagai lelaki, satu dengan lain dapat saling terangsang. Baik wanita, lelaki, atau seluruh penduduk dunia tidak akan mampu mengubah ciptaan Allah, menyamakan dua jenis atau menghapus rangsangan seks dari dalam jiwa mereka.


Mereka yang menggembar-gemburkan feminisma dan pergaulan bebas atas kemajuan adalah pembohongan bila dilihat dari dua sebab :


Pertama : karena itu semua mereka lakukan untuk kepuasan pada diri mereka, memberikan kenikmatan-kenikmatan melihat angota badan yang terbuka dan kenikmatan-kenikmatan lain yang mereka bayangkan. Akan tetapi mereka tidak berani berterus terang, oleh karena itu mereka bertopeng dengan kalimat yang mengagumkan yang sama sekali tidak ada artinya, seperti kemajuan, modenisasi, kehidupan kampus, dan ungkapan-ungkapan yang lain yang kosong tanpa makna bagaikan gendang yang dipukul bertalu-talu.


Kedua : mereka berbohong oleh karena mereka berimamkan pada Eropah, menjadikan Eropah bagaikan kiblat, dan mereka tidak dapat memahami kebenaran kecuali apa-apa yang datang dari sana, dari Paris, London, Berlin dan New York. Sekalipun berupa dansa, pornografi, pergaulan bebas di sekolah, buka aurat di kawasan awam dan telanjang di pantai (atau di kolam renang). Kebatilan menurut mereka adalah segala sesuatu yang datangnya dari timur, sekolah-sekolah Islam dan masjid-masjid, walapun berupa kehormatan, kemuliaan, kesucian dan petunjuk. Kata mereka, pergaulan bebas itu dapat mengurangi nafsu birahi, mendidik watak dan dapat menekan nafsu seksual, untuk menjawab ini saya limpahkan pada mereka yang telah mencuba pergaulan bebas di sekolah-sekolah, seperti Rusia yang tidak beragama, tidak pernah mendengar para ulama dan pendeta. Bukankah mereka telah meninggalkan percubaan ini setelah melihat bahwa hal ini amat merosakkan?




Saya tidak berbicara dengan para pemuda. Saya tidak ingin mereka mendengar. Saya tahu, mungkin mereka menyanggah dan mencemuhkan saya karena saya telah menghalangi mereka untuk memperoleh kenikmatan dan kelezatan. Akan tetapi saya berbicara kepada kalian puteri-puteriku. Wahai puteriku yang beriman dan beragama! Puteriku yang terhormat dan terpelihara ketahuilah bahwa yang menjadi korban semua ini bukan orang lain kecuali engkau.


Oleh karena itu jangan berikan diri kalian sebagai korban iblis. Jangan dengarkan ucapan mereka yang merayumu dengan pergaulan yang alasannya, hak asasi, modenisasi, feminisme dan kehidupan kampus. Sungguh kebanyakan orang yang terkutuk ini tidak beristeri dan tidak memiliki anak, mereka sama sekali tidak peduli dengan kalian selain untuk pemuas kelezatan sementara. Sedangkan saya adalah seorang ayah daripada empat orang gadis. Bila saya membela kalian, bererti saya membela puteri-puteriku sendiri. Saya ingin kalian bahagia seperti yang saya inginkan untuk puteri-puteriku. Sesungguhnya tidak ada yang mereka inginkan selainmemperkosa kehormatan wanita, kemuliaan yang tercela tidak akan bisa kembali, begitu juga martabat yang hilang tidak akan dapat ditemukan kembali.


Bila anak puteri jatuh, tak seorangpun di antara mereka mahu menyingsingkan lengan untuk membangunkannya dari lembah kehinaan. Yang engkau dapati mereka hanya memperebutkan kecantikan si gadis, Apabila telah berubah dan hilang, mereka pun lalu pergi menelantarkannya persis seperti anjing meninggalkan bangkai yang tidak tersisa daging sedikitpun.


Inilah nasihatku padamu, puteriku. Inilah kebenaran. Selain ini janganlah engkau percayai. Sedarlah bahwa di tanganmulah, bukan di tangan kami kaum laki-laki, kunci pintu perbaikan. Bila mahu perbaikilah diri kalian, dengan demikian umat pun kan menjadi baik.

(wallahul musta’an).


Karya Ali-Thanthawi

علي الطنطاوي

Penterjemah: Abdullah

Editor: Munir F. Ridwan – Muhammadun Abdul Hamid


3 comments:

Nur Arina said...

Akhi,mohon izin kongsi ni di facebook.

..~..WaN PeNaNG..~.. said...

Tafadhol ya ukhti.. silakan. semoga ianya dapat beri manfaat bersama buat diri setiap insan lebih2 yg bergelar muslim..

Althafunnisa said...

Semoga Allah swt memelihara kita semua dari sifat mazmumah