Tuesday, December 7, 2010

Pengertian Hadits


Hadits adalah segala perkataan (sabda), perbuatan dan ketetapan dan persetujuan dari Nabi Muhammad SAW yang dijadikan ketetapan ataupun hukum dalam agama Islam. Hadits dijadikan sumber hukum dalam agama Islam selain Al-Qur'an, Ijma dan Qiyas, dimana dalam hal ini, kedudukan hadits merupakan sumber hukum kedua setelah Al-Qur'an.

Ada banyak ulama periwayat hadits, namun yang sering dijadikan referensi hadits-haditsnya ada tujuh ulama, yakni Imam Bukhari, Imam Muslim, Imam Abu Daud, Imam Turmudzi, Imam Ahmad, Imam Nasa'i, dan Imam Ibnu Majah.

Ada bermacam-macam hadits, seperti yang diuraikan di bawah ini.

  • Hadits yang dilihat dari banyak sedikitnya perawi

    • Hadits Mutawatir

    • Hadits Ahad

      • Hadits Shahih

      • Hadits Hasan

      • Hadits Dha'if

  • Menurut Macam Periwayatannya

    • Hadits yang bersambung sanadnya (hadits Marfu' atau Maushul)

    • Hadits yang terputus sanadnya

      • Hadits Mu'allaq

      • Hadits Mursal

      • Hadits Mudallas

      • Hadits Munqathi

      • Hadits Mu'dhol

  • Hadits-hadits dha'if disebabkan oleh cacat perawi

    • Hadits Maudhu'

    • Hadits Matruk

    • Hadits Mungkar

    • Hadits Mu'allal

    • Hadits Mudhthorib

    • Hadits Maqlub

    • Hadits Munqalib

    • Hadits Mudraj

    • Hadits Syadz

  • Beberapa pengertian dalam ilmu hadits

  • Beberapa kitab hadits yang masyhur / popular



I. Hadits yang dilihat dari banyak sedikitnya Perawi

I.A. Hadits Mutawatir

Yaitu hadits yang diriwayatkan oleh sekelompok orang dari beberapa sanad yang tidak mungkin sepakat untuk berdusta. Berita itu mengenai hal-hal yang dapat dicapai oleh panca indera. Dan berita itu diterima dari sejumlah orang yang semacam itu juga. Berdasarkan itu, maka ada beberapa syarat yang harus dipenuhi agar suatu hadits bisa dikatakan sebagai hadits Mutawatir:

  1. Isi hadits itu harus hal-hal yang dapat dicapai oleh panca indera.

  2. Orang yang menceritakannya harus sejumlah orang yang menurut ada kebiasaan, tidak mungkin berdusta. Sifatnya Qath'iy.

  3. Pemberita-pemberita itu terdapat pada semua generasi yang sama.

I.B. Hadits Ahad

Yaitu hadits yang diriwayatkan oleh seorang atau lebih tetapi tidak mencapai tingkat mutawatir. Sifatnya atau tingkatannya adalah "zhonniy". Sebelumnya para ulama membagi hadits Ahad menjadi dua macam, yakni hadits Shahih dan hadits Dha'if. Namun Imam At Turmudzy kemudian membagi hadits Ahad ini menjadi tiga macam, yaitu:

I.B.1. Hadits Shahih

Menurut Ibnu Sholah, hadits shahih ialah hadits yang bersambung sanadnya. Ia diriwayatkan oleh orang yang adil lagi dhobit (kuat ingatannya) hingga akhirnya tidak syadz (tidak bertentangan dengan hadits lain yang lebih shahih) dan tidak mu'allal (tidak cacat). Jadi hadits Shahih itu memenuhi beberapa syarat sebagai berikut :

  1. Kandungan isinya tidak bertentangan dengan Al-Qur'an.

  2. Harus bersambung sanadnya

  3. Diriwayatkan oleh orang / perawi yang adil.

  4. Diriwayatkan oleh orang yang dhobit (kuat ingatannya)

  5. Tidak syadz (tidak bertentangan dengan hadits lain yang lebih shahih)

  6. Tidak cacat walaupun tersembunyi.

I.B.2. Hadits Hasan

Ialah hadits yang banyak sumbernya atau jalannya dan dikalangan perawinya tidak ada yang disangka dusta dan tidak syadz.

I.B.3. Hadits Dha'if

Ialah hadits yang tidak bersambung sanadnya dan diriwayatkan oleh orang yang tidak adil dan tidak dhobit, syadz dan cacat.


II. Menurut Macam Periwayatannya

II.A. Hadits yang bersambung sanadnya

Hadits ini adalah hadits yang bersambung sanadnya hingga Nabi Muhammad SAW. Hadits ini disebut hadits Marfu' atau Maushul.

II.B. Hadits yang terputus sanadnya

II.B.1. Hadits Mu'allaq

Hadits ini disebut juga hadits yang tergantung, yaitu hadits yang permulaan sanadnya dibuang oleh seorang atau lebih hingga akhir sanadnya, yang berarti termasuk hadits dha'if.

II.B.2. Hadits Mursal

Disebut juga hadits yang dikirim yaitu hadits yang diriwayatkan oleh para tabi'in dari Nabi Muhammad SAW tanpa menyebutkan sahabat tempat menerima hadits itu.

II.B.3. Hadits Mudallas

Disebut juga hadits yang disembunyikan cacatnya. Yaitu hadits yang diriwayatkan oleh sanad yang memberikan kesan seolah-olah tidak ada cacatnya, padahal sebenarnya ada, baik dalam sanad ataupun pada gurunya. Jadi hadits Mudallas ini ialah hadits yang ditutup-tutupi kelemahan sanadnya.

II.B.4. Hadits Munqathi

Disebut juga hadits yang terputus yaitu hadits yang gugur atau hilang seorang atau dua orang perawi selain sahabat dan tabi'in.

II.B.5. Hadits Mu'dhol

Disebut juga hadits yang terputus sanadnya yaitu hadits yang diriwayatkan oleh para tabi'it dan tabi'in dari Nabi Muhammad SAW atau dari Sahabat tanpa menyebutkan tabi'in yang menjadi sanadnya. Kesemuanya itu dinilai dari ciri hadits Shahih tersebut di atas adalah termasuk hadits-hadits dha'if.


III. Hadits-hadits dha'if disebabkan oleh cacat perawi

III.A. Hadits Maudhu'

Yang berarti yang dilarang, yaitu hadits dalam sanadnya terdapat perawi yang berdusta atau dituduh dusta. Jadi hadits itu adalah hasil karangannya sendiri bahkan tidak pantas disebut hadits.

III.B. Hadits Matruk

Yang berarti hadits yang ditinggalkan, yaitu hadits yang hanya diriwayatkan oleh seorang perawi saja sedangkan perawi itu dituduh berdusta.

III.C. Hadits Mungkar

Yaitu hadits yang hanya diriwayatkan oleh seorang perawi yang lemah yang bertentangan dengan hadits yang diriwayatkan oleh perawi yang terpercaya / jujur.

III.D. Hadits Mu'allal

Artinya hadits yang dinilai sakit atau cacat yaitu hadits yang didalamnya terdapat cacat yang tersembunyi. Menurut Ibnu Hajar Al Atsqalani bahwa hadis Mu'allal ialah hadits yang nampaknya baik tetapi setelah diselidiki ternyata ada cacatnya. Hadits ini biasa disebut juga dengan hadits Ma'lul (yang dicacati) atau disebut juga hadits Mu'tal (hadits sakit atau cacat).

III.E. Hadits Mudhthorib

Artinya hadits yang kacau yaitu hadits yang diriwayatkan oleh seorang perawi dari beberapa sanad dengan matan (isi) kacau atau tidak sama dan kontradiksi dengan yang dikompromikan.

III.F. Hadits Maqlub

Artinya hadits yang terbalik yaitu hadits yang diriwayatkan oleh perawi yang dalamnya tertukar dengan mendahulukan yang belakang atau sebaliknya baik berupa sanad (silsilah) maupun matan (isi).

III.G. Hadits Munqalib

Yaitu hadits yang terbalik sebagian lafalnya hingga pengertiannya berubah.

III.H. Hadits Mudraj

Yaitu hadits yang diriwayatkan oleh seorang perawi yang didalamnya terdapat tambahan yang bukan hadits, baik keterangan tambahan dari perawi sendiri atau lainnya.

III.I. Hadits Syadz

Hadits yang jarang yaitu hadits yang diriwayatkan oleh perawi yang tsiqah (terpercaya) yang bertentangan dengan hadits lain yang diriwayatkan dari perawi-perawi (periwayat / pembawa) yang terpercaya pula. Demikian menurut sebagian ulama Hijaz sehingga hadits syadz jarang dihapal ulama hadits. Sedang yang banyak dihapal ulama hadits disebut juga hadits Mahfudz.


IV. Beberapa pengertian (istilah) dalam ilmu hadits

IV.A. Muttafaq 'Alaih

Yaitu hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim dari sumber sahabat yang sama, atau dikenal juga dengan Hadits Bukhari - Muslim.

IV.B. As Sab'ah

As Sab'ah berarti tujuh perawi, yaitu:

  1. Imam Ahmad

  2. Imam Bukhari

  3. Imam Muslim

  4. Imam Abu Daud

  5. Imam Tirmidzi

  6. Imam Nasa'i

  7. Imam Ibnu Majah

IV.C. As Sittah

Yaitu enam perawi yang tersebut pada As Sab'ah, kecuali Imam Ahmad bin Hanbal.

IV.D. Al Khamsah

Yaitu lima perawi yang tersebut pada As Sab'ah, kecuali Imam Bukhari dan Imam Muslim.

IV.E. Al Arba'ah

Yaitu empat perawi yang tersebut pada As Sab'ah, kecuali Imam Ahmad, Imam Bukhari dan Imam Muslim.

IV.F. Ats tsalatsah

Yaitu tiga perawi yang tersebut pada As Sab'ah, kecuali Imam Ahmad, Imam Bukhari, Imam Muslim dan Ibnu Majah.

IV.G. Perawi

Yaitu orang yang meriwayatkan hadits.

IV.H. Sanad

Sanad berarti sandaran yaitu jalan matan dari Nabi Muhammad SAW sampai kepada orang yang mengeluarkan (mukhrij) hadits itu atau mudawwin (orang yang menghimpun atau membukukan) hadits. Sanad biasa disebut juga dengan Isnad berarti penyandaran. Pada dasarnya orang atau ulama yang menjadi sanad hadits itu adalah perawi juga.

IV.I. Matan

Matan ialah isi hadits baik berupa sabda Nabi Muhammad SAW, maupun berupa perbuatan Nabi Muhammad SAW yang diceritakan oleh sahabat atau berupa taqrirnya.


V. Beberapa kitab hadits yang masyhur / popular

  1. Shahih Bukhari

  2. Shahih Muslim

  3. Riyadhus Shalihin



Sumber: http://id.wikipedia.org/wiki/hadits


Sunday, December 5, 2010

Onak Ranjau Alam Pernikahan..


Lumrah kebiasaan pada musim cuti sekolah banyak jemputan walimatul urus akan diadakan di seluruh negara umumnya kerana pada masa ini pastinya de
ngan kehadiran saudara mara akan lebih memeriahkan lagi majlis walimah tersebut. Kebanyakan kini pasti lebih kepada bentuk katering terutama untuk penyediaan makanan kerana sekarang sudah agak jarang tempat yang masih menyediakan dalam bentuk gotong royong dan sebagainya. Maka tidak hairanlah untuk majlis walimah sahaja paling tidak 4k ke atas perlu disediakan oleh pihak tuan rumah.

Penulisan kali ini bukan sekadar untuk perkongsian cerita walimah semata tetapi juga merangkap kepada penghidupan berkeluarga juga yang akan juga ditempuh oleh sesiapa sahaja dalam erti kata kehidupan berkeluarga nanti. Ketika ini juga sudah ada beberapa jemputan walimah seperti Rizal Shahriman (4hb Dis) di Parit Buntar, Mat Yazid dan Anuar (12hb Dis) di Penang serta tidak ketinggalan Najmudin (19hb Dis) di Kedah. Tiga minggu berturut-turut dengan jemputan dan pastinya tidak semua jemputan rasanya dapat dipenuhi untuk dihadiri dengan penempatan kini juga di Selangor. Apapun penulis ucapkan tahniah untuk teman penulis kerana bakal menamatkan zaman bujang mereka dengan wanita pilihan hati mereka. Doa agar kebahagiaan dan barakah akan diperolehi dengan apa yang bakal kalian tempuh nanti, insyaAllah.


Bersediakah Akan Kemampuan Ekonomi Diri?

Apabila membicarakan soal walimah banyak yang perlu difikirkan. Soal kewangan pastinya antara topik mula akan dipertanyakan kerana kini itu antara soalan wajib bagi pihak lelaki mahupun perempuan yang disunting. Apabila bersembang dengan teman-teman bujang seangkatan mahupun yang telah mendirikan rumah tangga pastinya dikatakan sekarang andai tiada 15k mungkin agak semput nak fikirkan soal pernikahan. Hinggakan ramai yang sanggup membuat pinjaman bank persendirian untuk itu semata-mata tuntutan penyediaan untuk pernikahan. Sudahlah dengan kos pembelajaran juga hingga puluhan ribu ringgit, tambahan pula dengan hutang kenderaaan dan sebagainya juga perlu ditampung lebih lebih lagi ke atas si lelaki. Bagi lelaki yang bernasib baik dengan pekerjaan yang baik pastinya kesyukuran dipanjatkan kerana secara tidak langsung ianya meringankan sedikit beban untuk itu. Tambah pula bagi kaum keluarga yang agak berkemampuan pastinya tidak bermasalah. Ini kerana seorang sahabat penulis juga mengatakan dia baru sahaja melangsungkan pertunangan dan pihak perempuan meletakkan jumlah hantaran sebanyak 15k. Terguzuuuuut (betapa tinggi tahap kejutan tu, huhuhuhu) penulis dibuatnya. Tambah pula dia tidak kisah dan hanya menerima sepenuhnya tanpa sebarang rundingan dibuat. Tak tahulah, anak dato mana yang dipinangnya. Tahniah penulis ucapkan padanya.

Maka tidak hairan apabila penulis melayari sebuah blog seorang muslimat rasanya dalam memperkatakan isu antara pilihan sendiri dan juga pilihan pada mulanya ingatkan dirinya berada dalam dilema padahal di akhir artikel ternyata walaupun pilihan keluarga yang baginya tidak langsung mengenali pada awalnya tetapi diusulkan dan setelah mengetahui keaadan diri bakal pasangannya yang lengkap segala-galanya dalam aspek peninginapan, kenderaan dan sebagainya mengapa perlu ia menolak. Daripada menunggu akan teman istimewanya yang masih dalam pembelajaran pastinya perlukan masa untuk itu semua lebih baik dia tidak terus menunggu akan istilah menunggu buah yang tidak gugur. Teringat juga akan pengalaman yang lalu walaupun situasinya mungkin juga menjurus ke arah yang sama. Pengalaman buat diri pastinya...;0)

Hakikatnya muslimat juga punya hak dalam memilih siapa yang bakal jadi temannya dan juga bapa kepada anak-anak serta menantu akan ibu dan bapanya. Perkara yang lebih kurang juga sekiranya diri penulis ini seandainya ditakdirkan dilahirkan dalam kategori muslimah.


Tanggungjawab Individu

Selepas itu bagi diri individu yang lelaki akan kemampuan unuk menjadi pemimpin kerana sebagai suami tanggungjawab yang besar akan digalas kelak. Manakala perempuan pula akan kemampuan diri dalam pengurusan rumah tangga.dalam aspek bersama untuk tempoh masa berdua sahaja. Jika direzekikan Allah dengan kehadiran orang baru pastinya lebih bebanan untuk itu. Tetapi yakinlah bahawa setiap anak yang diberikan pasti sudah ada habuan rezeki yang telah termaktub untuknya tertulis di Lohmahfuz lagi dan ibu bapa perlu yakin. Tingkatan usaha untuk mencari rezeki yang lebih akan dibuat oleh ibu dan bapa dan di sini ujian akan lebih besar lagi kerana peringatan daripada Allah dalam Al-Quran mengatakan bahawa anak dan isteri juga merupakan fitnah bagi sang suami dalam konteks untuk mendekatkan diri kepada Allah.

Itu bertitik tolak hanya untuk diri tetapi rangkuman lain pula bakal menjadi menantu dan penerimaan keluarga pasangan sebagai kaum keluarga sendiri lebih-lebih lagi ibu bapa mertua. Banyak perkara bukan sahaja melibatkan individu malah ianya turut kaum keluarga kedua-dua belah pihak perlu dijalinkan untuk mencapai erti kehidupan berkeluarga kerana pastinya penggabungan dua keluarga yang berlainan akan terjalin di sini.



Aspek Ilmu dan Agama

Itu belum lagi termasuk aspek ilmu agama kerana kehidupan sebagai seorang muslim adalah Islam merupakan cara hidup keseluruhan. Perkara utama untuk jejak alam pernikahan adalah untuk melengkapkan agama yakni dengan mengikuti sunnah Nabi saw, melahirkan genarasi dan umat Nabi saw yang ramai kerana Nabi saw berbangga dengan umat yang ramai disamping dapat menjaga diri kerana ada penyaluran syahwat untuk itu.

Ini aspek penting yang kadang diambil lewa oleh setiap pasangan kerana semua ini tidak dijadikan ukuran utama dalam aspek pemilihan. Maka tidak hairanlah mengapa perkahwinan muda mudi masa kini tidak dapat bertahan lama. Dewasa ini sebenarnya kehidupan orang melayu sebenarnya lebih menjurus kepada melakukan agama ini dalam bentuk ritual semata-mata. Tidak lagi dalam kehidupan seharian. Apabila ada kematian, pernikahan, tahlil dan sebagainya baru cuba untuk mengaitkan dengan kehidupan beragama. Sekiranya tidak tiada langsung cuba pengaplikasian agama itu dilakukan dalam kehudipan seharian. Dalam masa yang sama pengamalan hanya ikut-ikutan tanpa ada dasar yang sahih itulah yang syarak kehendaki.

Aspek ini sekiranya ditanya hatta kepada artis sekalipun pastinya pemilihan pasangan adalah yang beriman dan dapat membimbing mereka ke jalan yang lurus hatta dalam penampilan seharian pun dengan pakaian yang menjolok mata, terdedah aurat dan sebagainya. Inilah keadaan masa kini kerana kebiasaannya dalam pemilihan pasangan pastinya ia akan melalui keadaan pergaulan dan fikrah diri individu dalam memastikan pasangan yang bakal berkongsi hidup. Sekiranya dia mengamalkan agama dalam kehidupan pastinya inginkan juga pasangan yang sedemikian untuk itu dan sekiranya dengan kehidupan yang social pastinya teman-teman yang seangkatan juga akan menjadi pilihan.



Matlamat Perkahwinan?

Sesiapa sahaja apabila memperkatakan tentang perkahwinan pastinya mengimpikan rumah tangga yang rahmah dan mawaddah. Tetapi mengapa apabila yang berkahwin itu walaupun dengan pasangan yang dicintai sepenuh hati tetapi tetap tak dapat kekal lama? Kalau kita tengok dalam cerita Hindustan pastinya yang menjadi topik utama adalah cinta hero dan heroin berusaha bersungguh-sungguh untuk disatukan sebagai pasangan. Tetapi cukupkah jika hanya cinta yang kita jadikan ukuran semata? Lihat statistik perceraian di kalangan umat Islam di Negara kita dari setahun ke setahun. Adakah ianya menurun atau menaik? Adakah sebenarnya mereka ini masuh belum bertemu dengan jodoh sebenar mereka? Adakah jodoh mereka tidak panjang? Tetapi pada awalnya pasti dikatakan mereka sudah bertemu dengan jodoh mereka kan? Adakah jodoh seseorang ini banyak sebenarnya dan kita berhak memilih dalam erti kata boleh je ‘try & error’ tengok samada dia itu jodoh sebenar kita atau pun tak?

Kadang-kadang terfikir di fikiran mengapa orang dahulu ramai yang hanya berkahwin sekali dan terus kekal hingga akhir hayat seperti kebanyakan ibu bapa kita sebagai contoh. Ada sesetengahnya diceritakan langsung tidak pernah kenal sehingga tarikh perkahwinan baru kenal hati budi dan bercinta selepas kahwin. Tetapi Alhamdulillah perkahwinan mereka rata-ratanya dapat bertahan lama jika dibandingkan dengan muda mudi kini. Apa rahsianya?

Ini kerana mereka letakkan matlamat utama dalam perkahwinan adalah mencari redha Allah dan mengikut sunnah Nabi saw dalam melengkapkan kehidupan diri ini. Ini kuncinya kerana sekiranya ini dijadikan landasan pastinya masing-masing akan cuba beri yang terbaik sebagai suami mahupun isteri dan dalam masa yang sama dapat menerima dengan hati terbuka akan kelemahan dan kekurangan diri pasangan. Sekiranya berlaku apa jua perkara yang tidak menepati kehendak diri maka ianya akan dineutralkan dengan memujuk diri bahawa masing-masing tidak sempurna untuk jadi yang ‘perfect’ dalam semua hal. Maka di sini akan wujud ‘give & take’ dalam perhubungan dan turut mengembalikan apa jua permasalahan kepada Sang Pencipta Yang Esa.



Ego Diri

Ni perkara besar dan siapapun pasti sukar untuk menundukkan lebih-lebih lagi bagi lelaki. Sebenarnya lelaki mahupun perempuan masing-masing ada ego tersendiri. Kadang-kadang sukar untuk orang lain membaca ego diri hatta pasangan sendiri. Maka tidak hairanlah pernah seorang teman apabila membicarakan tentang kenali pasangan yakni isteri sebenarnya perlukan masa. Dia yang dah berkahwin selama hampir 5 tahun pun masih belum dapat kenal 100% karektor sebenar zaujah kesayangan dia. Memang semua indah sebelum dan di awal perkahwinan tetapi apabila dah kahwin baru semuanya akan tersingkap segala kekurangan diri pasangan kita. Jika masa ini masing-masing terus dengan ego dan tiada sebarang tolak ansur cuba dibuat maka dugaan untuk teruskan hubungan akan bertambah rumit.

Banyak info berkaitan permasalahan pasangan yang berkahwin ini sebenarnya. Kadang-kadang isu yang sering diperkatakan adalah tiada persefahaman, suami baran, isteri pemalas, orang ketiga dan sebagainya. Cuba bayangkan dengan pengalaman seorang isteri yang mempunyai suami yang baran, kaki pukul, pantang ditegur dan yang sejenis tiba-tiba si suami yang dikenali bertahun ini berubah ataupun ditakdirkan dia berkahwin lain dan bertemu dengan yang penyayang, bertolak ansur, memahami dan penuh kasih saying pastinya si isteri ini akan lebih menghargai yang kedua ini. Perkara yang sama juga bagi si suami yang punya isteri yang punyai banyak sikap negative dan tiba-tiba dianugerahkan pengganti yang lebih baik juga akan lebih menghargai pasangan yang baru ini.


Peringatan Buat Diri Yang Dhaif

Untuk diri penulis sendiri banyak yang penulis perlu analisis sebelum ditakdirkan penulis menginjak alam pernikahan ini. Daripada aspek ekonomi, fizikal dan rohani semuanya perlu dibuat penilaian dan perlu dimantapkan dari semasa ke semasa. Dengan info dan juga maklumat yang diperolehi perlu dijadikan panduan dan pedoman agar perjalanan untuk menempuh alam itu yang pastinya lebih ranjau dan lurah yang lebih mencabar dalam bentuk pengaplikasian bukan hanya manis di bibir dan juga penulisan. Semoga kehadiran muslimat yang bakal mengisi hati ini untuk dijadikan zaujah, ummi untuk anak-anak, menantu untuk mak dan ayah dan juga adik serta kakak untuk kerabat penulis dapat menerima diri yang dhaif dan kerdil ini seadanya untuk sama-sama menempuh suka duka bersama dalam meniti onak ranjau kehidupan sementara ini dengan menjadikan Rasulullah saw sebagai idola dalam kehidupan serta jalan para sahabat, salafussoleh dan mereka yang berada di atas jalan tersebut, insyaAllah...


Sunday, November 28, 2010

Nasihat Untuk Ibu Muslimah

Segala puji bagi Allah. Semoga shalawat dan salam dilimpahkan kepada Rasulullah, para keluarga dan para sahabat beliau, serta kepada orang-orang yang mengikuti jalan dan petunjuk beliau sampai hari pembalasan.

Selanjutnya, saya tulis beberapa baris berikut ini untuk setiap ibu yang telah rela menjadikan Allah sebagai Rabbnya, Islam sebagai agamanya dan Muhammad sebagai Nabinya, Saya menulisnya dari hati seorang anak yang saat ini sedang merenungi firman Allah:

“Dan Rabbmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya, jika salah seorang diantara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan ‘ah’, janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah: “wahai Rabbku, kasihilah mereka berdua, sebagaimana mereka mendidik aku waktu kecil.” (QS. Al-Isra’: 23-24).


“Dan Kami perintakan kepada manusia (agar berbuat baik) kepada kedua ibu bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kedua ibu bapakmu.” (QS. Luqman:14).


Saya menulis baris-baris ini kepada orang yang paling berhak mendapatkan perlakuan baik dariku.

Dari Abu Hurairah rad. berkata: seseorang datang kepada Rasulullah saw dan bertanya: “wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling berhak mendapatkan perlakuan baik dariku? Beliau menjawab: Ibumu. “tanyanya lagi: “kemudian siapa? Beliau menjawab: "Ibumu". "tanyanya lagi: ‘kemudian siapa? “Beliau menjawab: "Ibumu” kemudian tanyanya lagi: “kemudian siapa? Beliau mejawab: Bapakmu.” (Muttafaq alaih).


Wahai ibuku, bagaimanakah saya harus mengungkapkan perasaan yang terpendam dalam hati ini? Tak ada ungkapan yang lebih benar, yang saya dapatkan, kecuali firman Allah swt:


“Katakanlah: "wahai Rabbku, kasihilah mereka berdua, sebagimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil.” (QS. Al-Isra’:24).


“Wahai ibuku, jadilah – semoga Alah memberi petunjuk – seorang mu’minah, yang beriman kepada Allah dan para Rasul-Nya. Jadilah seorang yang rela menjadikan Allah sebagai Rabbnya, Islam sebagai agamanya, dan Muhammad saw sebagai Nabi dan Rasulnya.


Dari Al-Abbas bin Abdul Muttalib t bahwa Nabi saw pernah bersabda:

“Telah merasakan nikmatnya iman, orang yang rela menjadikan Allah sebagai Rabbnya, Islam sebagi agamanya, dan Muhammad sebagai Rasulnya.” (HR. Muslim).


Wahai ibuku, hendaklah ibu mempersiapkan diri dengan bekal taqwa kepada Allah swt.

Allah swt. berfirman:

“Dan berbekallah, sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah taqwa.” (QS.Al-Baqarah:197).


Selalulah merasa diawasi Allah setiap saat, baik ibu dalam keadaan sembunyi maupun terang-terangan.

Allah swt berfirman:

“Sesungguhnya bagi Allah tidak ada satupun yang tersembunyi di bumi dan tidak (pula) di langit.” (QS. Ali Imran:5).

Wahai ibuku, sinarilah seluruh kehidupan ibu dengan sinar Al-Qur’an dan sunnah Rasulullah saw karena di dalam keduanya terdapat kebahagiaan di dunia dan akhirat. Dan hindarilah wahai ibuku, dari perbuatan yang mengikuti hawa nafsu, karena Allah swt. Berfirman:

“Maka apakah orang yang berpegang pada keterangan yang datang dari Rabbnya sama dengan orang yang (telah dijadikan oleh syetan) memandang perbuatannya yang buruk itu sebagai perbuatan baik dan mengikuti hawa nafsunya.” (QS. Muhammad:14).


Hendaklah akhlak ibu adalah Alqur’an.

Dari Aisyah berkata: “Akhlak Nabi adalah alqur’an”.

Wahai ibuku, jadilah suri tauladan yang baik untuk anak-anak ibu, dan berhati-hatilah jangan sampai mereka melihat ibu melakukan perbuatan yang menyimpang dari perintah Allah swt. dan Rasul-Nya swt karena anak-anak biasanya banyak terpengaruh oleh ibunya.


Wahai ibuku, jadilah ibu sebagai isteri solehah merupakan nikmat bagi sang suami, agar anak-anak ibu dapat terdidik dengan pertolongan Allah dalam suatu rumah yang penuh kebahagiaan suami-isteri.


Wahai ibuku, saya wasiatkan – semoga Allah menjaga ibu dari segala kejahatan dan kejelekan- agar ibu memperhatikan tunas-tunas mekar dari anak-anak ibu dengan pendidikan Islam, karena mereka merupakan amanat dan tanggung jawab yang besar bagi ibu, maka peliharalah mereka dan berilah hak pembinaan mereka.


Allah swt berfirman:

“Dan orang-orang yang memelihara amanah dan janjinya.” (QS. Al-Mu’minun:8).


Rasulullah saw bersabda: “Setiap kamu adalah pemimpin, dan setiap kamu bertanggungjawab terhadap yang dipimpinnya.” (Muttafaq alaih).


Wahai ibuku, hendaklah rumah ibu merupakan contoh yang benar bagi rumah keluarga muslim, tidak terlihat di dalamya suatu yang diharamkan dan tidak pula terdengar suatu kemungkaran, sehingga anak-anak- dapat tumbuh dengan penuh keimanan, mempunyai akhlak yang baik, dan jauh dari setiap tingkah laku yang tidak baik.


Wahai ibuku, jadilah ibu –semoga Allah memberi taufiq kepada ibu untuk setiap kebaikan- sebagai isteri yang dapat bekerja sama dengan suami ibu dalam memahami problematika dan kesulitan yang dihadapi anak-anak, dan bersama-sama mencarikan upaya penyelesaiannya dengan cara yang benar. Hendaknya ibu bersama bapak mempunyai peranan yang besar dalam memilihkan teman-teman yang baik untuk mereka, dan menjauhkan mereka dari teman-teman yang tidak baik. Perhatikan penjagaan mereka, agar terjauhkan dari sarana yang merusak akhlak mereka, kerena kita sekarang berada pada zaman yang penuh dengan penganjur kerusakan, baik dari golongan manusia maupun dari golongan jin. Perhatikan sungguh-sungguh pernikahan putera-puteri ibu bapak di suia mereka sedini mungkin dan bantulah mereka, karena perkawinan itu akan lebih menjaga mata dan keselamatan seksual mereka, dimana Rasulullah saw telah menjelaskan hal ltu:

“Wahai seluruh kaum remaja, barangsiapa di antara kamu telah mempunyai kemampuan maka kawinlah, karena hal itu lebih membantu menahan pandangan mata dan menjaga kelamin. Dan barangsiapa belum mampu, hendaknya berpuasa, karena itu merupakan ubat baginya.” (Muttafaq alaih).


Wahai ibuku, peliharalah shalat lima waktu pada waktunya masing-masing terutama shalat fajar, Allah swt. berfirman:

“Sesungguhnya shalat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.” (An-Nisa’:103).


Usahakan untuk selalu khusyu’ dalam shalat. Allah saw berfirman:

“Sesunguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyu’ dalam shalatnya.” (QS. Al-Mu’minun: 1-2).


Dan dengan itu, ibu menjadi suri tauladan yang baik bagi putera-puteri ibu.

Wahai ibuku, jadilah suri tauladan yang baik bagi putera-puteri ibu dalam keteguhan memakai pakaian hijab syar’i yang sempurna, terutama tutup wajah. Hal itu sebagai ketaatan kita kepada perintah Sang Pencipta langit dan bumi dalam firman-Nya:

Hai Nabi, katakanlah kepada para isterimu, puteri-puterimu, para isteri orang-orang mu’min, agar mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Ahzab:59).


Wahai ibuku, hendaknya rasa malu merupakan akhlak yang ibu miliki, karena demi Allah malu itu termasuk bagian dari iman.

Dari Ibnu Umar bahwa Rasulullah saw pernah melewati seorang dari kaum Anshar yang sedang menasehati saudaranya tentang rasa malu, kemudian Rasulullah saw bersabda: “Biarkan dia, karena sesungguhnya malu itu termasuk bagian dari iman.” (Muttafaq alaih).


Wahai ibuku, hendaknya do’a kepada Allah merupakan senjata bagi ibu dalam mengarungi kehidupan ini, dan bergembiralah dengan akan datangnya kebaikan, karena Rabb telah menjanjikan kita dengan firman-Nya:

“Dan tuhanmu berfirman: ‘berdo’alah kepada-Ku, niscaya akan Ku perkenankan bagimu.” (QS. Al-Mu’min: 60).


Dari An-Nu’man bin Basyir dari Nabi saw bersabda:

“Do’a adalah ibadah.” (riwayat Abu Daud, dan Tirmizi, ia berkata: hadist hasan shahih).


Kepada Allah aku memohon agar menjaga ibu dengan penjagaan-Nya, memelihara ibu dengan pemeliharaan-Nya, membahagiakan ibu di dunia dan akhirat, dan mengumpulkan kita, ibu-ibu kita, bapak-bapak kita, dan seluruh kaum muslimin dan muslimat di dalam surga-Nya yang ni’mat. Sesungguhnya Rabbku Maha Dekat, Maha Mengabulkan dan Mendengarkan do’a.

Disusun Oleh:

YUSUF BIN ABDULLAH AT TURKI

Penerjemah:

ABU AZKA FARIDY


Murajaah :

Erwandi Tarmizi. MA & Abu Ziyad

ARTIKEL DARIPADA ISLAMONLINE.com

Wednesday, November 17, 2010

Teks Wasiat Syaikh Al-Albani



PENGERTIAN WASIAT

Wasiat ialah suatu hasrat atau keinginan yang dizahirkan secara lisan atau bertulis oleh seseorang mengenai hartanya untuk diuruskan selepas berlaku kematiannya. Tetapi wasiat yang dibuat secara lisan adalah terdedah kepada fitnah akibat arahan yang tidak jelas dan boleh dipertikaikan di kalangan ahli waris.


Sesiapa yang meninggal dunia dengan meninggalkan wasiat maka dia mati di atas jalan Islam dan mengikut sunnah. Dia mati dalam keadaan bertaqwa, bersyahadah dan dalam keadaan diampunkan.

- Hadis riwayat Ibnu Majjah-


Penulis rasakan ingin bekongsi dengan semua yang membaca akan artikel di bawah yang berkaitan dengan wasiat seorang ulama muhaddithin mutakhirin yang membuatkan terkesima penulis dibuatnya apabila membaca isi wasiatnya untuk keluarganya. Pastinya ada mesej yang ingin disampaikan oleh beliau yang dirasakan penting untuk beliau wasiatkan sebelum beliau meninggalkan alam ini. Lebih-lebih lagi akan perkara yang boleh membantu beliau semasa berada di alam barzakh kelak.

Bagi setiap insan apabila melibatkan hal kematian pasti kebiasaannya bagi saudara yang kejauhan lebih-lebih lagi anak-anak si mati yang berada diperantauan akan diusahakan juga untuk pulang bagi menatap wajah kali terakhir insan tersayang yang telah menemui Ilahi. Itu sahaja kesempatan yang ada mungkin akan cuba diambil terutama bagi saudara yang rapat dengan si mati. Tetapi adakalanya apabila melibatkan jarak tempat yang agak jauh walaupun punyai kemudahan kenderaan, jalan raya dan sebagainya adakalanya ianya akan mengambil masa yang agak lama juga untuk sampai ke destinasi. Hinggakan ada sesetengah tu mengambil keputusan menangguhkan proses pengebumian jenazah asbab menunggu saudara atau waris si mati. Dalam Islam sebenarnya ini adalah dilarang kerana penyegeraan pengebumian jenazah adalah amat-amat dianjurkan disegerakan.


Wasiatku

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ

Aku wasiatkan kepada isteri dan putra-putriku, teman-teman dan siapa saja yang mencintaiku:

1. Jika sampai kepadanya berita kematianku, hendaklah yang pertama dilakukannya, memanjatkan do'a (kepada Allah جل جلا له.Pent) agar aku diampuni dan dirahmati. Jangan tangisi atas kematianku dengan cara niyahah (meratapi) dan mengeraskan suara.

2. Hendaklah segera menguburkanku dan jangan beritakan kepada kerabat serta saudara-saudaraku terkecuali setelah melaksanakan apa yang menjadi kewajiban mereka dalam mempersiapkan jenazahku. Hendaklah saudara Izat Khidlir Abu 'Abdillah (tetangga dan temanku yang ikhlas), memimpin pemandian jenazahku bersama orang-orang yang ditunjuk untuk membantu­nya.

3. Aku memilih dikuburkan di pekuburan yang terdekat (dari rumah kematianku Pent), agar tidak memaksakan para pelayat yang membawa jenazahku untuk meletakkannya di sebuah kereta jenazah, yang tentunya para pengantarpun akan mengendarai kendaraan mereka mengiringi jenazahku. Hendaklah aku di­kuburkan di pekuburan lama yang diyakini tidak akan ada pembongkaran.

Bagi mereka yang berada di negeri tempat wafatku, agar tidak menyampaikan berita kematianku kepada putra-putriku yang berada di luar negeri apalagi kepada selain mereka, terkecuali se­telah jenazahku diantarkan ke pemakaman. (Hal ini saya maksudkan) agar mereka tidak dikuasai oleh luapan perasaan yang dapat mendorong mereka untuk berbuat apa saja, sehingga menyebab­kan tertundanya pemakaman jenazahku.

Aku mohon kepada Allah جل جلا له agar berjumpa dengan-Nya, dalam keadaan dosa-dosaku telah diampuni-Nya baik yang ter­dahulu maupun yang kemudian.

Demikian pula, aku wasiatkan seluruh isi perpustakaanku agar diserahkan kepada perpustakaan Universitas Islam Madinah al-Munawwarah, baik berupa kitab yang telah dicetak, foto copy, manuskrip yang kutulis dengan tanganku atau ditulis oleh orang selainku, (hal ini kulakukan -Pent) karena ketika menjadi dosen di-sana, aku memiliki kenangan dan kesan-kesan indah tatkala ber­dakwah mengajak manusia kepada al-Qur'an dan as-Sunnah sesuai dengan manhaj Salafush Shalih.

Dengan demikian aku berharap semoga dapat memberi manfaat kepada pengunjungnya sebagaimana pemiliknya pada saat itu, telah memberi manfaat kepada para mahasiswanya, dan semoga dengan keikhlasan dan do'a mereka akan bermafaat bagiku.

رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَى وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحاً تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي إِنِّي تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّي مِنَ الْمُسْلِمِينَ

"Ya Rabbku tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan agar aku dapat melakukan amal shaleh yang Engkau ridhai serta berikanlah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada-Mu dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri." (QS. Al-Ahqaaf: 15-Pent).


(Muhammad Nashiruddun Al-Albani - 28 Jumadil Ula 1410 H)